ELVARIA MENOREHKAN SEJARAH BARU BAGI POLITIK LUBUKLINGGAU

TEBARKAN – LUBUKLINGGAU – Ketika Sejarah Tidak Lagi Bertanya Siapa yang Pantas Memimpin, Tetapi Siapa yang Mampu Memimpin. Sejarah tidak pernah diciptakan oleh mereka yang takut menjadi yang pertama. Sejarah selalu lahir dari keberanian menembus batas yang selama ini dianggap mustahil.”

Jika benar untuk pertama kalinya seorang perempuan dipercaya memimpin partai politik di Kota Lubuklinggau, maka hari itu bukan sekadar pergantian ketua. Hari itu adalah runtuhnya tembok cara berpikir lama yang terlalu lama menganggap politik hanya milik laki-laki dan kepemimpinan hanya pantas diwariskan kepada wajah-wajah yang itu-itu saja.

Nama Elvaria, S.E. bukanlah nama yang lahir dari keberuntungan. Ia ditempa oleh proses panjang. Sejak bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada tahun 2014, ia membangun langkah dari bawah, aktif di Perempuan Bangsa, mengabdi sebagai pendamping desa, hingga akhirnya dipercaya masyarakat menjadi Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan. Perjalanan itu membuktikan bahwa kepercayaan tidak diwariskan, tetapi diperjuangkan.

Puncaknya terjadi pada tahun 2026 ketika DPP PKB mempercayakan amanah kepadanya sebagai Ketua DPC PKB Kota Lubuklinggau. Sebuah keputusan yang tidak hanya mencatat pergantian kepemimpinan, tetapi juga membuka lembaran baru dalam sejarah politik kota ini.

Kepercayaan itu berdiri di atas fondasi yang nyata. Pada Pemilu 2024, PKB Kota Lubuklinggau berhasil meningkatkan perolehan kursinya dari 2 menjadi 4 kursi DPRD, sekaligus menempatkan PKB di tiga besar partai pemenang dengan raihan 20.033 suara. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah amanah yang kini harus dijaga dan diperbesar.

Sejarah dunia telah lebih dahulu membuktikan bahwa kepemimpinan tidak mengenal jenis kelamin. Ketika banyak orang meragukan perempuan mampu memimpin negara, Benazir Bhutto mematahkan keraguan itu dengan menjadi perempuan pertama yang menjabat Perdana Menteri Pakistan, sebuah negara mayoritas Muslim yang politiknya dikenal keras dan penuh tantangan. Sejarah tidak mengingat Benazir karena ia seorang perempuan. Sejarah mengingatnya karena keberaniannya mengubah sesuatu yang dianggap mustahil menjadi kenyataan.

Begitu pula setiap perubahan besar. Selalu ada orang yang mencibir sebelum akhirnya bertepuk tangan. Selalu ada yang meremehkan sebelum akhirnya mengakui.

Ironisnya, masih ada yang mengukur kualitas pemimpin dari gender, bukan dari rekam jejaknya. Mereka lebih sibuk menjaga ego daripada membangun masa depan. Mereka lupa bahwa politik tidak pernah runtuh karena dipimpin perempuan. Politik justru runtuh ketika dipimpin oleh mereka yang miskin integritas, miskin gagasan, tetapi kaya ambisi.

Inilah satire politik yang sesungguhnya: mereka yang paling keras meremehkan perempuan sering kali adalah mereka yang paling gelisah ketika perempuan berhasil. Sebab keberhasilan seorang perempuan bukan hanya meruntuhkan prasangka, tetapi juga meruntuhkan kesombongan orang-orang yang terlalu lama merasa politik adalah milik mereka.

Heraclitus pernah berkata, “Tidak ada yang abadi selain perubahan.” Dan perubahan selalu meminta korban pertama: kesombongan.

Kini sejarah telah memberikan ruang kepada Elvaria, S.E. Namun sejarah juga tidak mengenal belas kasihan. Ia tidak akan mengabadikan seseorang hanya karena menjadi perempuan pertama. Sejarah hanya mengabadikan mereka yang mampu mengubah jabatan menjadi pengabdian, kepercayaan menjadi prestasi, dan kekuasaan menjadi manfaat bagi rakyat. Selasa (28/7/2026).

Karena pada akhirnya, sejarah tidak pernah bertanya siapa yang paling lama berkuasa. Sejarah hanya akan bertanya: siapa yang berani membuka jalan ketika yang lain hanya sibuk menjaga pintu. Dan sering kali, orang yang membuka jalan itulah yang akan dikenang jauh lebih lama daripada mereka yang merasa paling berhak melewatinya. (*).

Pos terkait